Rabu, 13 Maret 2013

penyesalan seorang ayah....


Penyesalan Seorang Ayah 


Berikut ada sebuah cerita yang bisa membawa hikmah bagi kehidupan, betapa pentingnya waktu utk orang-orang yang kita cintai. Terkadang kita lebih banyak melewatkan waktu di tempat kerja (karena tuntutan kerja, tuntutan uang) daripada bersama keluarga. Padahal menurut anda, mana yang lebih penting, uang atau berkumpul dengan keluarga dan orang-orang yang anda cintai?? Kalo saya, pilih dua-duanya. Semoga cerita ini bisa membawa hikmah bagi kita semua. 

Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika ia sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, putrinya Aisya datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru. Buku itu 
bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Aisya, “Yah liat”! Aisya berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kacamatanya, kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi “Wah,. buku baru ya?”, 

“Ya ayah” Aisya berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya. “Bacain Aisya dong Pa” pinta Aisya lembut. 

“Wah ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh” sanggah Budi dengan cepat. 

Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan didepannya, dengan serius.Aisya bengong sejenak, namun ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu “Yah, Bunda bilang Ayah mau baca untuk Aisya” 

Budi mulai agak kesal, “Ayah sibuk, sekarang Aisya suruh Bunda baca ya” 

“Yah, Bunda cibuk terus, ayah liat gambarnya lucu-lucu” 

“Lain kali Aisya, sana! Ayah lagi banyak kerjaan” Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi, menit demi menit berlalu, Aisya menarik nafas panjang dan tetap disitu, berdiri ditempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi. 

“Pa,.. gambarnya bagus, ayah pasti suka” 

“Aisya, AYAH BILANG, LAIN KALI!!” kata Budi membentaknya dengan keras, Kali ini Budi berhasil, semangat Aisya kecil terkulai, hampir menangis, matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya. 

“Iya pa,. lain kali ya pa?” Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah.“Yah, kalau ayah ada waktu, ayah baca keras-keras ya pa, supaya Aisya bisa denger” 

Hari demi hari telah berlalu, tanyah terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Aisya kecil tidak pernah terpenuhi, buku cerita Peri Imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras 

“Buukk!!” beberayah tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Aisya kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraannya dengan kencang didepan rumah Budi. Tubuh Aisya mungil terhentak beberayah meter, dalam keadaan yang begitu panik ambulance didatangkan secepatnya, selama perjalanan menuju rumah sakit, Aisya kecil sempat berkata dengan begitu lirih“Aisya takut Ayah, Aisya takut Bunda, Aisya sayang Ayah dan Bunda” 

Darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat. Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi, Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana pun tidak terpenuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali. 

“Ayah baca keras-keras ya Pa, supaya Aisya bisa denger” kata-kata Aisya terngiang-ngiang kembali. 

Sore itu setelah segalanya telah berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati, canda dan riang Aisya kecil tidak akan terdengar lagi, Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Aisya di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberayah coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Aisya kecil. Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan sura keras, tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras. 

Ia terus membacanya dengan keras-keras halaman demi halaman, dengan berlinang air mata. “Aisya dengar Ayah baca ya” selang beberapa kata,.. hatinya memohon lagi “Aisya, ayah mohon ampun nak... Ayah sayang Aisya” Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya, tak kuasa menahan itu Budi bersujut dan menangis,.. 
memohon satu kesempatan lagi untuk mencintai. 

Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan kesenangan dan membagi kesedihan kita, Ia selalu memberi PERHATIAN kepada kita karena ia peduli kepada kita. ADAKAH “PERHATIAN TERBAIK” ITU BEGITU MAHAL BAGI MEREKA ? BERILAH “PERHATIAN TERBAIK” WALAUPUN ITU HANYA SEKALI Bukankah Kesempatan untuk memberi perhatian kepada orang-orang yang kita cintai itu sangat berharga ? 

Terima kasih, telah membaca kisah ini, 

apabila Anda merasa bermanfaat, ; bisa dishared kerekan rekan semua..... thx